Minggu, 22 Desember 2013

The Devil's Whisper



Judul: The Devil's Whisper
Judul Asli: 魔術はささやく - Majutsu wa sasayaku
Pengarang: 宮部みゆき - Miyabe Miyuki
Penerbit: Penerbit Serambi (2012)
ISBN: 978-979-02-4376-7
Jumlah Halaman: 416 halaman
Penerbitan Perdana: 1989




Dari sinopsis:
Tiga kematian berturut-turut terjadi dalam waktu yang berdekatan: seorang gadis terjun dari atap gedung bertingkat; seorang gadis lainnya melompat ke atas rel tepat di depan kereta yang melaju kencang; dan gadis ketiga tewas tertabrak taksi pada tengah malam. Adakah hubungan antara ketiga peristiwa itu? Apakah itu murni kecelakaan atau kasus bunuh diri? Ataukah … pembunuhan?

Kisahnya dimulai dari berita-berita di koran yang mengisahkan seorang gadis terjun dari atap gedung apartemennya dan gadis lain yang melompat ke depan kereta listrik yang melaju kencang. Kematian keduanya dicatat sebagai kasus bunuh diri - meski tanpa adanya surat bunuh diri -  dan segera dilupakan orang.



Lalu pembaca dibawa untuk berkenalan dengan keluarga Asano. Taizo Asano adalah pengemudi taksi independen yang tertimpa sial karena menabrak seorang gadis yang berlari langsung ke muka taksinya. Tanpa saksi, ia ditahan dan terancam didakwa kelalaian mengemudi dan menewaskan orang. Mamoru Kusaka, keponakan Taiso, adalah remaja 16 tahun, masih duduk di kelas 2 SMU. Kedua orang tuanya telah meninggal. Ayah Mamoru pergi meninggalkan rumah saat Mamoru masih bocah dan kemudian dituduh menggelapkan uang negara. Ibunya selama hidupnya tidak pernah mempercayai hal ini, dan akibatnya Mamoru dan ibunya hidup dengan cemohan dari orang-orang sekitarnya. Untunglah setelah kematian ibunya, Mamoru diadopsi oleh keluarga bibinya yang menyayanginya sepenuh hati. Karena itu, insiden ini sangat melukai perasaan Mamoru, karena ia tahu rasanya hidup dibawah tudingan, dan tidak ingin bibinya, Yoriko dan sepupunya, Maki, mengalami peristiwa yang sama. Mamoru mengambil keputusan untuk membersihkan nama pamannya dan menyelidiki kasus ini sendiri.

Selain itu, di tempat kerja sambilannya di sebuah pusat perbelanjaan, Mamoru menghadapi fenomena lain. Dalam beberapa waktu terakhir, orang-orang mengalami penyimpangan kelakuan. Sebagian pengunjung (para pengutil di toko) menjadi ragu-ragu dan mudah tertangkap, sebagian yang lain menjadi agresif dan paranoia.

Penyelidikan Mamoru membawanya dari satu hal ke hal yang lain, hingga tiba pada kesimpulan bahwa ada peristiwa-peristiwa bunuh diri lain yang berhubungan dengan korban tewas tertabrak pamannya itu. Ada empat orang gadis yang terlibat skema penipuan, dan kini tiga diantaranya kini telah meninggal dan satu yang lain menghilang. Kemudian, ada seorang pria eksekutif perusahaan bonafide, tampil menjadi saksi dan menguatkan kasus pamannya. Mamoru pun memutuskan untuk menghentikan mengorek-ngorek masa lalu kelam gadis-gadis tersebut. Namun saat itu, si Pembunuh sudah menyadari kehadiran Mamoru dan mulai menghubunginya....


* * *


Novel ini sangat enak dibaca, alurnya berkelok dengan misteri yang terbuka perlahan-lahan satu persatu. Jalan ceritanya mudah diikuti. dengan pelaku, motif dan metode yang tidak lazim. Sub plot yang dihadirkan juga asyik diikuti, sama tidak lazimnya, dan pada akhirnya menyatu dengan plot utama dengan sangat mulus. Twist di akhir kisah tentang ayah Mamoru sungguh tidak terduga. Ending-nya bagus, meskipun tidak istimewa. Untuk ukuran novel misteri dari Jepun, ini kisah paling tidak sadis.... hangat di hati malah. #haissh #apaansih :)

Selama membaca cerita ini, aku suka sekali dengan karakter Mamoru yg muda, cerdas, sedikit idealis, kadang naif tapi sama sekali gak ababil. Bahwa ia telah mengalami banyak hal sedari kecil, tidak membuatnya jadi remaja bermasalah, justru ia jadi mudah bersimpati pada masalah orang lain. Karakter-karakter lain yang bersliweran di sekitarnya juga sangat wajar. Ada banyak orang-orang jahat dan perbuatan-perbuatan jahat di sana sini, tapi juga diimbangi dengan adanya karakter-karakter baik dan tulus serta karma-karma baik yang dialami para tokoh. Meskpun demikian Mamoru ini juga bukan tokoh super hero. Di beberapa bagian kerapuhannya diperlihatkan dengan sangat halus dan hati-hati. Kebimbangannya untuk membalas dendam atau tidak di akhir cerita, itu pun sangat bagus digambarkan. Tetapi puncak keterpurukan Mamoru adalah saat ia tidak sengaja menemukan cicin kawin ayahnya pada sosok yang sama sekali tak diduganya. Adegan setelah itu, saat ia datang membawa kegalauannya mencari Anego di pagi buta, memeluknya dan menangis... duh, itu simpel, tapi dalam. #sigh

Karakter lain yang juga mencuri spotlight adalah Kazuko Takagi. Satu-satunya gadis muda yang terlibat dalam skenario penipuan keji, yang belum terbunuh. Kazuko sama sekali bukan perempuan tanpa dosa. Ia tahu ia penipu dan ia menjalaninya dengan teramat sadar. Bukannya tanpa nurani, tapi ia adalah prototipe orang yang berpendapat bahwa itu adalah pilihan 'saya atau kamu' yang akan hidup. Ketakutannya saat mendapati satu per satu teman-temannya tewas cukup tergali. Ketakutan yang pada satu titik nyaris membuatnya gila. Penyelesaian yang diberikan kepadanya pun sangat khas gaya oriental, yang berlanjut tanpa memaksakan nilai moral tertentu. Yah, demikianlah, hidup terus berjalan.



Untuk edisi Bahasa Indonesianya ini, terjemahannya enak dan mudah dimengerti, tampaknya dialihbahasakan langsung dari bahasa Jepang. Bersih typo. Yang tidak begitu kusukai adalah tampilan covernya. Aneh dan tidak selaras #halah dengan judul maupun isinya (tapi dari goodreading cover-cover edisi yang lain, juga ternyata tidak ada yang benar-benar bagus kok, not my taste).

Ini novel pertama Miyuki Miyabe yang kubaca, yang ternyata juga merupakan novel debutnya. Sekarang karya-karyanya (ada beberapa manga juga) akan masuk dalam radar pencarianku, terutama novel All She Was Worth dan The Reason yang telah banyak memenangkan penghargaan. Semoga Serambi berniat menterjemahkannya juga.





https://www.goodreads.com/review/show/747162368

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Recent Pages

Recent Posts Widget